Lebih Baik “Diputuskan” atau “Memutuskan”?
ilustrasi: google.com Begitu mendengar pernyataan “putus” dari sang kekasih, hati terasa hancur berkeping-keping. Belum lagi melihat keadaan si dia yang tidak disangka-sangka, seperti lebih bahagia atau sudah memiliki kekasih baru. Namun, kamu jangan larut dalam duka mendalam. Belum tentu mantan kekasihmu itu memikirkanmu. Nah, kalau kamu di posisi yang paling greget yaitu memutuskan hubungan dengan dia, bagaimana rasanya? Apakah jauh lebih bahagia, terpaksa, atau karena telah disakiti? Menurut penulis, posisi yang memutuskan jauh lebih rumit, sebab sebelumnya sudah jauh dipikirkan matang-matang. Belum lagi kalau ada pengaruh orang luar, seperti orang tua, teman, atau saudaramu yang merasa kamu tidak cocok dengannya. Lain halnya dengan yang memiliki “orang ketiga”, bisa saja suatu saat akan terlacak kamu. Bagi kamu korban yang diputuskan , memang rasanya sesak di awal dan mungkin saja kamu kesulitan move on . Rasanya memang tidak adil untukmu, tapi setelah dipiki...